Jumat, 18 November 2011


Dia datang dengan senyum yang hangat. Mengulurkan tangan. Membantuku berjalan meski berdiri saja begitu susah bagiku. Selalu memandangku dan tak pernah berpaling.Masih teringat jelas dalam ingatanku saat dia menggendongku menuruni tangga, menggandeng tanganku erat saat menyeberang jalan, mengacak-acak rambutku dan mencubit pipiku. Dia yang sabar duduk berjam-jam di balik kemudi untuk membiarkanku tertidur di sampingnya, mebiarkan jas barunya yang masih berbau toko basah saat aku menangis di pelukannya. Dia yang jongkok di hadapanku, memiringkan kepalanya ke kiri untuk menatapku sambil tersenyum dan menghapus air mataku.

Mata ini masih belum lupa saat melihat dahinya berkeringat karena makan mie ayam yang telah banyak kuberi sambal. Hidung ini belum lupa aroma mint dari parfumnya. Telinga ini belum lupa dengan suaranya saat berusaha menyanyikan lagu “If You Love me For Me” walau dengan nada yang sumbang. Tangan ini masih merasakan hangatnya genggaman tangannya.

Tapi mata ini tak sempat melihat lambaian tangannya sebelum dia pergi. Telinga ini belum mendengar kata selamat tinggal darinya. Tangan ini belum sempat merasakan genggaman tangan perpisahan darinya. Dia bahkan tak pernah melakukannya walau hanya dalam mimpi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar